December 3rd, 2006 by iteja

Anak Kambing
-XVII-

Lukas 15:29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.

Ironinya adalah dia seorang yang sangat setia dengan setiap tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Tidak pernah ia mendukakan orang tuanya. Ia anak yang tidak pernah berbuat salah dihadapan orang tuanya. Tetapi mengapa ia kehilangan sukacitanya. Ia berpikir bahwa ia telah melayani dan menghormati orang tuanya, tetapi tindakannya menunjukkan bahwa dia hanyalah seorang budak di rumah tuannya. Sikapnya untuk tidak ikut merayakan pesta malah menunjukkan bahwa ia sungguh tidak menghormati orang tuanya.

Ia merasa layak dihadapan ayahnya, mengapa si bungsu yang berandal dan kurang ajar itu malah yang dipestakan. Ia ingin dihargai dengan segala ketaatan dan usahanya, tetapi pesta itu sepertinya menafikan segala jerih payahnya selama ini. Ia menganggap si bungsu sebagai lawannya. Ia sangat marah ketika si bungsu mendapat apa yang seharusnya tidak layak diberikan kepadanya. Ia tidak mengalami sukacita.

Sukacita selalu lahir dari kesadaran bahwa dirinya dikasihi, diterima, dan mempunyai arti di dalam segala ketidaklayakan yang ada. Ia berpikir bahwa dirinya akan dikasihi, diterima, dan mempunyai arti dihadapan orang tuanya jikalau dapat melakukan semua kewajiban dengan baik. Selama bertahun-tahun dia melakukan kewajiban itu tanpa cacat, sehingga dirinya merasa layak untuk mendapatkan kasih itu. Itulah dasar sukacita yang dia rindukan terwujud di dalam hidup dia.

Di dalam ketaatannya untuk melakukan semua kewajibannya dia tidak pernah mengalami sukacita itu, karena sikap hatinya beku untuk melihat sukacita yang berlimpah yang siap diberikan kepadanya dari ayahnya. Sukacitanya adalah sukacita yang bersyarat. Dan dasar sukacitanya adalah pembuktian dirinya layak disebut anak, bukanlah dia sebenarnya sudah mempunyai status seorang anak?

Kedatangan adiknya memutarbalikkan hal-hal yang telah diperjuangkan olehnya selama bertahun-tahun. Apa yang telah dicapai dan dibanggakannya sepertinya tidak mempunyai arti. Dia seperti sia-sia dengan semua perjuangannya. Dia iri dengan adiknya yang telah mendapatkan semua yang didambakannya itu tanpa harus memperjuangkannya. Sepertinya dia juga ingin mengatakan, mengapa aku harus taat dan melayani ayahnya dengan setia?

Akhirnya semua yang dia pegang dan pendam mendapatkan kesempatan untuk diungkapkan. Ketidakpuasan demi ketidakpuasan yang dia rasakan selama ini sepertinya mendapatkan kambing hitamnya dengan kedatangan yang tidak dia harapkan dari adiknya.

Jauh di dalam hatinya dia ternyata tidak pernah merasakan suka cita bahkan dengan seekor anak kambing, apalagi seekor anak lembu tambun dan itu pun untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatnya bukan dengan orang tuanya. Sepertinya dia tidak menyadari bahwa segala bantahannya justru semakin menunjukkan ketidakpuasan meskipun dia hidup di dalam ketaatan.

Ia tidak menyadari bahwa ada hukum yang berbeda yang telah diberlakukan di dalam peristiwa ini, yaitu hukum kasih karunia. Sikap hatinya telah membuat matanya tertutup untuk melihat misteri kasih ayahnya kepada adiknya. Ketaatannya membuatnya sombong, dan jerat legalisme secara tersembunyi telah melilitnya untuk bersukacita bersama menikmati pesta untuk adiknya.

November 29th, 2006 by iteja

Si Sulung
-XIV-

Lukas 15:25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. 26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.

Ternyata ada yang tertinggal mengikuti pesta, anaknya yang sulung. Anak yang selalu bekerja keras di rumah bapaknya. Anak yang tidak pernah membantah setiap perintah bapaknya, dan tidak pernah mengeluh, tetapi juga ia tidak pernah mengalami sukacita. Emosinya selalu tertahan dalam dirinya.

Ketika seluruh kampung sudah larut dalam sukacita tersebut, gaungnya ternyata terlambat datang ke telinga anaknya yang sulung. Tidak mungkin di rumah ada pesta yang dia tidak ketahui sebab musabab-musababnya. Ketika semua sepertinya begitu cepat berubah, bau harum rasa lemak anak sapi mulai tercium, dan suara seruling, rebana dan kecapi mulai ditabuh mengajak setiap orang untuk bergembira. Ia mulai menyadari bahwa ada pesta yang lebih dari sekedar pesta.

Tetapi kebingungannya menjadi lebih besar sebab dia sendiri tidak pernah mengalami pesta. Pesta adalah sesuatu yang sangat asing bagi dirinya. Ketika dia baru datang maka ia menanyakan, “Apa arti semuanya itu?”

Pertanyaan yang mungkin keluar dari seorang yang tidak pernah mengalami sukacita. Pertanyaan yang mungkin secara tidak sadar memberikan gambaran betapa dia selama ini di dalam ketaatannya tidak pernah merasakan sukacita yang sejati.

Tinggal bersama orang tuanya ternyata tidak membuat dia merasa nyaman dan aman. Pemberontakan adiknya membuat dirinya sangat marah. Kemarahannya atas sikap adiknya dikompensasikannya dengan kerajinan dan ketaatannya di rumah ayahnya. Dan sepertinya ingin membuktikan bahwa dirinya tidak sama dengan adiknya. Dirinya orang yang baik dan layak dihormati, berbeda dengan adiknya.

Secara tidak sadar kemarahannya menetaskan kepahitan di dalam hidupnya. Ia tidak bisa mengampuni adiknya dan sukacitanya menjadi hilang. Sang anak sulung menjadi orang yang dingin di dalam segala kesalehannya.

Ia tidak merasakan kehilangan seperti yang bapanya rasakan. Ia kehilangan belas kasihan. Kebenciannya telah berganti rupa menjadi kesalehan yang dingin, egois dan kaku.

Bunyi seruling dan tari-tarian tidaklah cukup kuat untuk merangsang dirinya untuk ikut bersenandung ria, justru menimbulkan kecurigaan mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi di rumah bapanya. Jikalau adiknya datang dengan segala kekayaan dan keberhasilan mungkin masuk akal kita mengadakan pesta, tetapi si bungsu datang dengan segala kebangkrutan. Ini tidak adil.

November 27th, 2006 by iteja

Rangkulan dan Ciuman
-IX-

Lukas 15 : 20c. Ayah itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

Ayah itu terlebih dahulu melihatnya. Ketika ia yakin bahwa itu adalah anaknya ia langsung berlari mendapatkannya. Sang anak tidak menyadari semua kondisi yang dihadapinya saat ini. Ia tertegun ketika menjumpai orang yang ingin dia sujudi ternyata terlebih dahulu berlari untuk mendapatkan dirinya. Ia terpaku melihat semua peristiwa yang begitu cepat terjadi di depannya. Bukannya ia berinisiatif untuk berlari, tetapi ternyata ayahnya terlebih dahulu berinisiatif untuk mendapatkannya. Ia terpukau terhadap penerimaan dirinya yang luar biasa.

Ia terpaku dan terpukau.

Orang-orang lain dibuat bingung dengan peristiwa ini. Mereka memandang hal ini sebagai ketidakwajaran. Bagaimana mungkin seorang bapak yang telah begitu didurhakai rela untuk berinisiatif berlari untuk menjumpai orang yang telah mendurhakainya. Bagaimana ia rela menanggalkan segala kehormatan dan martabatnya di tengah masyarakat untuk menjumpai anak yang tidak tahu diuntung?

Ia mempunyai hak untuk menghajar dan memaki si bungsu, tetapi ia tidak mengambil hak itu. Ia mungkin memerlukan klarifikasi dari kelakukan si bungu, tetapi ia mengabaikannya. Ia sangat pantas untuk mendapatkan kejelasan kepulangannya, tetapi ia tidak memerlukan pembelaan dari si bungsu. Ia mempunyai hak untuk menolak kedatanngannya, tetapi ia malah menerimanya tanpa syarat.

Orang-orang ini adalah saksi dari pergumulan bapak-anak yang terjadi. Seorang saksi biasanya mengikutkan nilai-nilai normatif dirinya untuk menilai peristiwa yang terjadi. Kisah yang terjadi di atas semuanya seperti diluar nilai normatif yang dipunyai para saksi tersebut. Bagi mereka tidak mungkin seorang bapak merendahkan diri sedemikian rupa untuk menjumpai orang yang mendurhakainya tanpa terlebih dahulu sang anak mengakui kesalahannya.

Mereka tidak tahu yang bergumul di hati sang bapaknya. Kasihnya begitu besar, dan ia ingin mengaruniakan itu kepada orang yang sangat dikasihinya. Ia sudah menunggu lama kepulangannya, dan ia tidak ingin menunda-nunda kasihnya karena alasan gengsi dirinya.

Ketika akhirnya dijumpai anaknya, ia merangkul dan menciumnya. Suatu drama yang luar biasa. Suatu drama yang tidak terjadi didalam rumah atau di tempat-tempat yang pribadi, tetapi itu terjadi di depan umum. Semua orang melihat itu dan menjadi saksi perjumpaan dan pendamaian yang luar biasa. Seluruh semesta rasanya berhenti menyaksikan rangkulan dan ciuman itu. Pertunjukkan kasih yang agung tersebut dinyatakan.

Kasihnya mengalahkan segala gengsinya, dan kasihnya membenarkan tindakannya. Si bungsu yang ingin menggunakan bibirnya untuk mengungkapkan penyesalannya, sekejap dibungkam tindakan ayahnya nya yang ingin supaya ia menggunakan bibirnya untuk membalas mencium dirinya. Keberandalan dan kekumuhan anaknya tidak menghalanginya untuk melakukan semuanya itu.

Ketika rangkulan tangan ayahnya menyelimuti lehernya, dan ciuman bapanya jauh pada pipinya, dan mereka saling berpelukan, maka tidak ada yang dapat membantah betapa sebuah pertunjukan cinta yang agung sedang diungkapkan.

Rangkulan dan ciuman itu membuktikan bahwa ayahnya sudah melupakan segala dosa pelanggarannya. Sepenuh rangkulan dan ciuman ayahnya jauh lebih bermakna dari serangkaian upacara penyambutan. Rangkulan dan ciuman itu menghapuskan masa lalunya yang kelam dan membarui hatinya yang kelam. Rangkulan dan ciuman itu menegaskan tanda kasih setia ayahnya yang tiada berkesudahan terhadap anaknya.

Ciuman dan rangkulannya murni tanpa kepalsuan dan penghianatan. Ia mencium sepenuh cinta. Ciuman dan rangkulannya merupakan wujud cinta yang dinyatakan sepenuhnya. Ciuman dan rangkulannya penuh dengan belas kasihan dan kemurahan. Dan si bungsu tahu, bahwa ayahnya sangat mengasihi dirinya.

Semua ketakutannya hilang, kasih bapanya menghancurkan segala ketakutannya dan digantikan dengan sukacita. Rangkulan dan ciuman sang bapak kepada anaknya yang kembali bagaikan suatu tetesan-tetesan air yang melepaskan dahaga jiwanya. Mereka rasanya ingin berlama-lama untuk saling merangkul sambil melakukan kilas balik di dalam hati mereka masing-masing. Sang anak merasakan kedamaian dan penerimaan yang sangat dalam.

Intermezzo

June 19th, 2006 by iteja

"Jaim" Dengan Tuhan

Citra, engkaulah bayangan. Sebuah sajak lagu yang sering kita dengar dahulu kala ketika festival film indonesia digelar. Sebuah bayangan tidak menggambarkan wujud sesungguhnya dari sesuatu. Banyak distorsi di dalamnya. Bayangan hanyalah model dari yang sesungguhnya. Dan harapannya bayangan tersebut dapat mewakili yang sesungguhnya.

Industri periklanan sangat jago di dalam mencitrakan produk yang ingin dijualnya sesuai target konsumen yang ingin ditujunya. Para audien dibujuk untuk membeli berdasarkan bayangan yang dapat digambarkannya secara efektif kepada masyarakat.

Image, citra, atau bayangan merupakan sebuah cara untuk mengkomunikasikan sesuatu dengan efektif. Sehingga sebuah jargon, yaitu citra kita adalah diri kita makin populer di dalam kehidupan kita. 

* * *

Citra diri kita, atau (saya lebih suka) bayangan kita, merupakan bayangan dari diri kita yang sebenarnya. Karena pengenalan akan diri kita (baik oleh diri kita sendiri maupun orang lain) tidaklah pernah sampai sempurna, sampai kita memang mengenal diri kita sendiri apa adanya secara sempurna.

Ketika kita memperkenalkan diri kita kepada orang lain, hakekatnya kita sedang memperkenalkan bayangan dari diri kita kepada orang lain. Itulah kita, tetapi belum tentu kita (yang sebenarnya). Mengenal dan dikenal adalah proses alami di dalam kita berhubungan dengan orang lain. Bayangan diri kita yang ingin kita tampilkan seyogyanya adalah diri kita yang sebenarnya, yang otentik. Sehingga orang lain tidak merasa tertipu. 

Layaknya sebuah komoditi, kita ingin juga menampilkan bayangan diri kita ’seolah’ merupakan sebuah bayangan yang unggul, sangkil dan mangkus serta berdaya jual tinggi. Bayangan diri kita tampilkan sedemikian rupa tanpa cacat dan cela. Alih-alih membuat orang semakin mempercayai kita, tetapi justru malah membuat seseorang merasa kecewa, karena ternyata seseorang yang dikenal sebelumnya bertindak seperti yang dapat dia bayangkan.

Menampilkan bayangan dari diri kita, ternyata juga memerlukan effort yang besar. Pendidikan, status sosial dan ekonomi dapat meningkatkan bayangan diri kita dihadapan masyarakat. Dalam masyarakat modern ini, pengelompokkan justru di dasarkan kepada tipologi model bayangan yang ingin ditampilkan, sehingga semakin banyak tipe kelompok komunitas yang mempunyai kesamaan orientasi terhadap suatu bayangan tertentu. Dan di dalam kelompok tersebut, bayangan tentang diri kita di kaitkan sehingga semakin memperkuat konsep diri yang ingin kita tampilkan. 

Ada suatu mekanisme yang dapat semakin memperkuat atau memperlemah bayangan kita. Hal itu sangat tergantung seberapa besar kita dapat menjaga bayangan diri kita di hadapan orang lain atau komunitas kita. Usaha untuk menjaga bayangan diri kita memudahkan kita untk terjebak kita penyangkalan terhadap siapa diri kita (yang sebenarnya). Sehingga malah membuat bayangan kita sebenarnya menjadi sangat jauh dari diri kita yang sebenarnya.

Kita tentu menyetujui bahwa masyarakat kita semakin artifisial, semakin tidak nyata (un-real). Gagasan untuk menampilkan konsep diri yang tidak otentik dan orisinil merupakan  hal yang sulit, karena godaan untuk mengelabuhi diri sendiri merupakan hal yang lumrah. Sehingga bayangan yang kita tampilkan adalah bayangan yang justru bukan diri kita yang sebenarnya.

* * *

Ketika kita jujur pada diri sendiri, kita akan tersentak kepada suatu kesadaran bahwa diri kita sering tidak seindah bayangan kita. Menjaga citra (jaga image; jaim) merupakan bahasa populer untuk mengendalikan citra diri kita dihadapan orang lain. Orang tidak melihat kita apa adanya (vulnerable), tetapi seperti memiliki topeng untuk menampilkan diri kita layaknya seorang aktor.

Orang mudah tertipu dengan hal tersebut, dan diri kita pun juga dapat tertipu dengannya.

Mempunyai citra yang otentik, transparan dan orisinil merupakan tantangan. 

* * *

Bagaimana bisa ‘jaim’ dengan Tuhan?

Bisa saja, kalau kita mau. Tetapi untuk apa? Permasalahannya memang bukan bisa atau tidak bisa? Karena gravitasinya bukan di diri kita, tetapi di Allah pencipta langit dan bumi. Pengakuan akan siapa diri kita kiranya lebih berharga dibandingkan usaha kita untuk melindungi diri kita dihadapannya.

Pertumbuhan adalah proses kesadaran akan kebangkrutan, keberdosaan dan ketidakdapatdiandallkannya diri kita dihadapan Allah. Citra kita dihapanNya adalah bayangan hitam dosa, dan penemuan kesadaran akan bayangan hitam dosa itu membawa kita kapada tahta Allah yang penuh kasih karunia dan kebenaran.

Bukankah di hadapan sinar tahta Allah yang penuh kasih karunia dan kebenaran itu tidak ada bayangan menggelayuti hidup kita?