Archive for November, 2006

Wednesday, November 29th, 2006

Si Sulung
-XIV-

Lukas 15:25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. 26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.

Ternyata ada yang tertinggal mengikuti pesta, anaknya yang sulung. Anak yang selalu bekerja keras di rumah bapaknya. Anak yang tidak pernah membantah setiap perintah bapaknya, dan tidak pernah mengeluh, tetapi juga ia tidak pernah mengalami sukacita. Emosinya selalu tertahan dalam dirinya.

Ketika seluruh kampung sudah larut dalam sukacita tersebut, gaungnya ternyata terlambat datang ke telinga anaknya yang sulung. Tidak mungkin di rumah ada pesta yang dia tidak ketahui sebab musabab-musababnya. Ketika semua sepertinya begitu cepat berubah, bau harum rasa lemak anak sapi mulai tercium, dan suara seruling, rebana dan kecapi mulai ditabuh mengajak setiap orang untuk bergembira. Ia mulai menyadari bahwa ada pesta yang lebih dari sekedar pesta.

Tetapi kebingungannya menjadi lebih besar sebab dia sendiri tidak pernah mengalami pesta. Pesta adalah sesuatu yang sangat asing bagi dirinya. Ketika dia baru datang maka ia menanyakan, “Apa arti semuanya itu?”

Pertanyaan yang mungkin keluar dari seorang yang tidak pernah mengalami sukacita. Pertanyaan yang mungkin secara tidak sadar memberikan gambaran betapa dia selama ini di dalam ketaatannya tidak pernah merasakan sukacita yang sejati.

Tinggal bersama orang tuanya ternyata tidak membuat dia merasa nyaman dan aman. Pemberontakan adiknya membuat dirinya sangat marah. Kemarahannya atas sikap adiknya dikompensasikannya dengan kerajinan dan ketaatannya di rumah ayahnya. Dan sepertinya ingin membuktikan bahwa dirinya tidak sama dengan adiknya. Dirinya orang yang baik dan layak dihormati, berbeda dengan adiknya.

Secara tidak sadar kemarahannya menetaskan kepahitan di dalam hidupnya. Ia tidak bisa mengampuni adiknya dan sukacitanya menjadi hilang. Sang anak sulung menjadi orang yang dingin di dalam segala kesalehannya.

Ia tidak merasakan kehilangan seperti yang bapanya rasakan. Ia kehilangan belas kasihan. Kebenciannya telah berganti rupa menjadi kesalehan yang dingin, egois dan kaku.

Bunyi seruling dan tari-tarian tidaklah cukup kuat untuk merangsang dirinya untuk ikut bersenandung ria, justru menimbulkan kecurigaan mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi di rumah bapanya. Jikalau adiknya datang dengan segala kekayaan dan keberhasilan mungkin masuk akal kita mengadakan pesta, tetapi si bungsu datang dengan segala kebangkrutan. Ini tidak adil.

Monday, November 27th, 2006

Rangkulan dan Ciuman
-IX-

Lukas 15 : 20c. Ayah itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

Ayah itu terlebih dahulu melihatnya. Ketika ia yakin bahwa itu adalah anaknya ia langsung berlari mendapatkannya. Sang anak tidak menyadari semua kondisi yang dihadapinya saat ini. Ia tertegun ketika menjumpai orang yang ingin dia sujudi ternyata terlebih dahulu berlari untuk mendapatkan dirinya. Ia terpaku melihat semua peristiwa yang begitu cepat terjadi di depannya. Bukannya ia berinisiatif untuk berlari, tetapi ternyata ayahnya terlebih dahulu berinisiatif untuk mendapatkannya. Ia terpukau terhadap penerimaan dirinya yang luar biasa.

Ia terpaku dan terpukau.

Orang-orang lain dibuat bingung dengan peristiwa ini. Mereka memandang hal ini sebagai ketidakwajaran. Bagaimana mungkin seorang bapak yang telah begitu didurhakai rela untuk berinisiatif berlari untuk menjumpai orang yang telah mendurhakainya. Bagaimana ia rela menanggalkan segala kehormatan dan martabatnya di tengah masyarakat untuk menjumpai anak yang tidak tahu diuntung?

Ia mempunyai hak untuk menghajar dan memaki si bungsu, tetapi ia tidak mengambil hak itu. Ia mungkin memerlukan klarifikasi dari kelakukan si bungu, tetapi ia mengabaikannya. Ia sangat pantas untuk mendapatkan kejelasan kepulangannya, tetapi ia tidak memerlukan pembelaan dari si bungsu. Ia mempunyai hak untuk menolak kedatanngannya, tetapi ia malah menerimanya tanpa syarat.

Orang-orang ini adalah saksi dari pergumulan bapak-anak yang terjadi. Seorang saksi biasanya mengikutkan nilai-nilai normatif dirinya untuk menilai peristiwa yang terjadi. Kisah yang terjadi di atas semuanya seperti diluar nilai normatif yang dipunyai para saksi tersebut. Bagi mereka tidak mungkin seorang bapak merendahkan diri sedemikian rupa untuk menjumpai orang yang mendurhakainya tanpa terlebih dahulu sang anak mengakui kesalahannya.

Mereka tidak tahu yang bergumul di hati sang bapaknya. Kasihnya begitu besar, dan ia ingin mengaruniakan itu kepada orang yang sangat dikasihinya. Ia sudah menunggu lama kepulangannya, dan ia tidak ingin menunda-nunda kasihnya karena alasan gengsi dirinya.

Ketika akhirnya dijumpai anaknya, ia merangkul dan menciumnya. Suatu drama yang luar biasa. Suatu drama yang tidak terjadi didalam rumah atau di tempat-tempat yang pribadi, tetapi itu terjadi di depan umum. Semua orang melihat itu dan menjadi saksi perjumpaan dan pendamaian yang luar biasa. Seluruh semesta rasanya berhenti menyaksikan rangkulan dan ciuman itu. Pertunjukkan kasih yang agung tersebut dinyatakan.

Kasihnya mengalahkan segala gengsinya, dan kasihnya membenarkan tindakannya. Si bungsu yang ingin menggunakan bibirnya untuk mengungkapkan penyesalannya, sekejap dibungkam tindakan ayahnya nya yang ingin supaya ia menggunakan bibirnya untuk membalas mencium dirinya. Keberandalan dan kekumuhan anaknya tidak menghalanginya untuk melakukan semuanya itu.

Ketika rangkulan tangan ayahnya menyelimuti lehernya, dan ciuman bapanya jauh pada pipinya, dan mereka saling berpelukan, maka tidak ada yang dapat membantah betapa sebuah pertunjukan cinta yang agung sedang diungkapkan.

Rangkulan dan ciuman itu membuktikan bahwa ayahnya sudah melupakan segala dosa pelanggarannya. Sepenuh rangkulan dan ciuman ayahnya jauh lebih bermakna dari serangkaian upacara penyambutan. Rangkulan dan ciuman itu menghapuskan masa lalunya yang kelam dan membarui hatinya yang kelam. Rangkulan dan ciuman itu menegaskan tanda kasih setia ayahnya yang tiada berkesudahan terhadap anaknya.

Ciuman dan rangkulannya murni tanpa kepalsuan dan penghianatan. Ia mencium sepenuh cinta. Ciuman dan rangkulannya merupakan wujud cinta yang dinyatakan sepenuhnya. Ciuman dan rangkulannya penuh dengan belas kasihan dan kemurahan. Dan si bungsu tahu, bahwa ayahnya sangat mengasihi dirinya.

Semua ketakutannya hilang, kasih bapanya menghancurkan segala ketakutannya dan digantikan dengan sukacita. Rangkulan dan ciuman sang bapak kepada anaknya yang kembali bagaikan suatu tetesan-tetesan air yang melepaskan dahaga jiwanya. Mereka rasanya ingin berlama-lama untuk saling merangkul sambil melakukan kilas balik di dalam hati mereka masing-masing. Sang anak merasakan kedamaian dan penerimaan yang sangat dalam.