Archive for December, 2006

Intermezzo

Friday, December 8th, 2006

Penemuan Terbesar !

            Ketika Archimedes menemukan Hukum Archimedes-nya yang terkenal itu, ia langsung berteriak, "Eureka!" Bagaikan orang gila dia langsung melompat dari bak mandinya tanpa mengeringkan diri dan berpakaian ia langsung berlari untuk memberitakan kabar penemuannya. Ini adalah kisah historis mengenai suatu penemuan suatu hukum alam yang sangat berpengaruh terhadap peradaban manusia.

            Sejarah peradaban manusia patut memberikan hormatnya kepada para penemu yang telah berjasa memberikan sumbangan bagi kemajuan kebudayaan manusia. Suatu penemuan bahkan dijadikan nama suatu era karena banyaknya pengaruh dari penemuan tersebut.


            Bagi sang penemu, ada suatu sukacita yang meluap tak tertahankan karena penemuan tersebut. Suatu kepuasan yang luar biasa karena apa yang dia cari selama ini telah dia dapatkan.


            Bagaimana dengan penemuan rohani?

* * *

            Dalam Injil hal kerajaan sorga seperti halnya seorang yang menemukan harta terpendam. Sehingga dia harus menjual segala miliknya untuk mendapatkan tanah dimana harta terpendam tersebut tertanam. Sebenarnya ada suatu transaksi dalam perumpamaan ini, yaitu bahwa dia harus mengorbankan semua hak miliknya untuk mendapatkan harta tersebut. Dia rela menjual semua miliknya untuk mendapatkan harta terpendam tersebut. Dia rela untuk mengakui bahwa segala miliknya sangat tidak berharga dibandingkan dengan penemuan tersebut.


            Yang menjadi andalan bagi dirinya adalah penemuan tersebut. Keberadaan dirinya ditentukan dengan resiko tukar-menukar yang telah dia lakukan dengan penemuan tersebut.

            Alkitab sering menceritakan orang-orang yang menemukan Allah. Penemuan ini bagaikan suatu audiensi eksklusif antara dirinya dengan Allah. Karena begitu dalamnya perjumpaan tersebut membuat dirinya tidak bisa tidak harus mengakui siapa Allah bagi dirinya. Pada hekekatnya adalah Allah sendiri yang menyatakan dirinya kepada kita. Secara kreatif Dia membongkar kebutuhan kita yang paling dalam dan menyingkapkan kebohongan-kebohongan yang tersembunyi di dalam diri kita.

            Allah yang transenden merelakan diriNya untuk dikenal oleh manusia yang sangat terbatas. Kerendahan hati yang begitu agung dan mulia dipertontonkan dihadapan manusia. Pernyataan Allah yang sedemikian luar biasa ini sudahlah sepatutnya membuat manusia yang masih yang merindukanNya terpana tidak berdaya. Keterpanaan dan ketidakberdayaan ini yang membuat dirinya bersujud dihadapan tahta hadiratNya yang kudus.

            Ayub menemukan Allah. Daud menemukan Allah. Yesaya menemukan Allah. Yeremia menemukan Allah. Yohanes Pembaptis menemukan Allah. Perempuan Samaria menemukan Allah. Pemungut Cukai menemukan Allah. Wanita Pelacur menemukan Allah. Orang gila di Gadara menemukan Allah. Murid-murid menemukan Allah. Rasul Paulus menemukan Allah. Para tokoh iman telah menemukan Allah.

            Penemuan mereka akan Allah merupakan babak baru dalam kehidupan mereka. Suatu revolusi di dalam kehidupan mereka telah terjadi. Dampak yang terjadi tidak hanya untuk masa sekarang ini saja tetapi memberikan dampak kepada kekekalan.


            Inilah penemuan terbesar!


* * *


            Apa nilai penting dalam pelayanan kita kepada orang lain? Pelayanan kita kepada orang lain mendapatkan signifikansinya ketika orang yang kita layani menemukan kebutuhan terbesar dan setiap saat dalam hidupnya, yaitu : Allah. Penemuan yang tidak dapat diperbandingkan dengan semua penemuan lainnya.


            Allah itu cukup.


            Ada dua dampak ketika yang terbesar telah ditemukan. Pertama dia tidak dirisaukan dengan hal-hal yang lainnya yang kurang nilainya, karena yang terbesar telah dia temukan berdasarkan kasih karunia, mengapa yang lainnya tidak. Dia nyaman dengan penemuan itu. Kedua dia memancarkan kuasa dari penemuan itu kepada orang-orang di sekitarnya. Tidak ada yang dapat menahan-nahan kuasa pengenalan akan Allah tersebut untuk terus mengalir kepada orang-orang disekitarnya.


            Penemuan ini memberi dasar bagi pertumbuhan hubungan kita dengan Allah. Karena Dia lah yang telah memulai, mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan baik di dalam diri kita sampai kepada kesempurnaan yang sejati.

Sunday, December 3rd, 2006

Anak Kambing
-XVII-

Lukas 15:29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.

Ironinya adalah dia seorang yang sangat setia dengan setiap tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Tidak pernah ia mendukakan orang tuanya. Ia anak yang tidak pernah berbuat salah dihadapan orang tuanya. Tetapi mengapa ia kehilangan sukacitanya. Ia berpikir bahwa ia telah melayani dan menghormati orang tuanya, tetapi tindakannya menunjukkan bahwa dia hanyalah seorang budak di rumah tuannya. Sikapnya untuk tidak ikut merayakan pesta malah menunjukkan bahwa ia sungguh tidak menghormati orang tuanya.

Ia merasa layak dihadapan ayahnya, mengapa si bungsu yang berandal dan kurang ajar itu malah yang dipestakan. Ia ingin dihargai dengan segala ketaatan dan usahanya, tetapi pesta itu sepertinya menafikan segala jerih payahnya selama ini. Ia menganggap si bungsu sebagai lawannya. Ia sangat marah ketika si bungsu mendapat apa yang seharusnya tidak layak diberikan kepadanya. Ia tidak mengalami sukacita.

Sukacita selalu lahir dari kesadaran bahwa dirinya dikasihi, diterima, dan mempunyai arti di dalam segala ketidaklayakan yang ada. Ia berpikir bahwa dirinya akan dikasihi, diterima, dan mempunyai arti dihadapan orang tuanya jikalau dapat melakukan semua kewajiban dengan baik. Selama bertahun-tahun dia melakukan kewajiban itu tanpa cacat, sehingga dirinya merasa layak untuk mendapatkan kasih itu. Itulah dasar sukacita yang dia rindukan terwujud di dalam hidup dia.

Di dalam ketaatannya untuk melakukan semua kewajibannya dia tidak pernah mengalami sukacita itu, karena sikap hatinya beku untuk melihat sukacita yang berlimpah yang siap diberikan kepadanya dari ayahnya. Sukacitanya adalah sukacita yang bersyarat. Dan dasar sukacitanya adalah pembuktian dirinya layak disebut anak, bukanlah dia sebenarnya sudah mempunyai status seorang anak?

Kedatangan adiknya memutarbalikkan hal-hal yang telah diperjuangkan olehnya selama bertahun-tahun. Apa yang telah dicapai dan dibanggakannya sepertinya tidak mempunyai arti. Dia seperti sia-sia dengan semua perjuangannya. Dia iri dengan adiknya yang telah mendapatkan semua yang didambakannya itu tanpa harus memperjuangkannya. Sepertinya dia juga ingin mengatakan, mengapa aku harus taat dan melayani ayahnya dengan setia?

Akhirnya semua yang dia pegang dan pendam mendapatkan kesempatan untuk diungkapkan. Ketidakpuasan demi ketidakpuasan yang dia rasakan selama ini sepertinya mendapatkan kambing hitamnya dengan kedatangan yang tidak dia harapkan dari adiknya.

Jauh di dalam hatinya dia ternyata tidak pernah merasakan suka cita bahkan dengan seekor anak kambing, apalagi seekor anak lembu tambun dan itu pun untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatnya bukan dengan orang tuanya. Sepertinya dia tidak menyadari bahwa segala bantahannya justru semakin menunjukkan ketidakpuasan meskipun dia hidup di dalam ketaatan.

Ia tidak menyadari bahwa ada hukum yang berbeda yang telah diberlakukan di dalam peristiwa ini, yaitu hukum kasih karunia. Sikap hatinya telah membuat matanya tertutup untuk melihat misteri kasih ayahnya kepada adiknya. Ketaatannya membuatnya sombong, dan jerat legalisme secara tersembunyi telah melilitnya untuk bersukacita bersama menikmati pesta untuk adiknya.